Monday, October 11, 2010

Memperjuangkan Sepakbola: Apakah “permainan sedunia” ini permainan rakyat?

Piala Dunia FIFA 2010 di Afrika Selatan telah memulai putaran final 16 besarnya pada 26 Juni. Ia hadir di tengah dengungan terompet vuvuzela yang tak pernah surut, kekalahan tim-tim besar seperti Italia dan Perancis, dan aksi-aksi protes di jalanan oleh warga setempat yang marah atas dana 40 miliar rand yang dibelanjakan pemerintah untuk membiayai acara yang dikelola swasta ini. Sementara itu, kaum miskin Afrika Selatan menderita karena perumahan dan akses layanan mendasar yang di bawah standar.
 Sepakbola adalah “permainan dunia” yang dimainkan oleh jutaan orang di seluruh dunia dan ditonton oleh ratusan juta lainnya. Tapi benarkah itu “permainan rakyat”?
Sepakbola itu sendiri seringkali merupakan suatu pertunjukan menegangkan yang menampilkan kepiawaian manusia. Suatu pertandingan sepakbola yang bermutu tinggi dapat dibandingkan dengan seni. Maka tak heran ia begitu populer di seluruh dunia.

Namun permainan itu, tak dapat dipungkiri, disertai serangkaian aspek buruk. Persoalan hooliganisme sepakbola, terutama di Eropa, sudah dikenal baik. Banyak kelab-kelab dan kelompok penggemarnya menjadi lahan subur bagi perkembangan kelompok neo-Nazi dan ekstrim sayap-kanan, seperti English Defence League.
Di tingkat interasional, dukungan terhadap tim nasional mudah sekali diekspresikan menjadi rasisme terang-terangan.

Sosialisme yang kuyakini adalah semua orang bekerja untuk sesamanya, semua orang mendapatkan bagian dari hasil. Itulah pandanganku tentang sepakbola, pandanganku tentang dunia

Sebuah “kostum pendukung” Belanda yang dirancang untuk Piala Dunia di Afrika Selatan menggambarkan seorang pendukung Belanda menduduki pundak seorang warga Afrika Selatan berkulit hitam. Iklan yang menyertainya memberikan instruksi untuk “menyetir” kaum “Afrika” dengan menarik-narik kupingnya.
Banyak pemain dalam tim nasional Perancis yang keturunan Afrika dan Arab. Ketika Perancis memenangkan Piala Dunia 1998, keberagaman ini dirayakan secara luas sebagai bukti sehatnya multikulturalisme dan tolerannya masyarakat di Perancis.

Namun, ketika Perancis berkemas pulang dalam putaran pertama Piala Dunia 2010 setelah konflik antara pemain dan pelatih, terdapat suara-suara rasisme terselubung. Tajuk-tajuk utama di Perancis menyatakan para anggota tim bersikap “tidak-Perancis” karena latar belakang etnis mereka dan karena dibesarkan di pinggiran kota Paris yang sebagian besar kaum imigran, miskin, serta menjadi tempat aksi-aksi protes yang diwarnai kekerasan beberapa tahun lalu.

Dominasi korporasi

Dominasi korporasi dalam olah raga juga dapat memberikan dampak negatif. Pertumbuhan pesat utang kelab-kelab sepakbola Inggris sejak Liga Utama didirikan pada 1992 – diperparah oleh krisis keuangan global – telah menghancurkan sejumlah kelab yang ada. Bahkan dua kelab terbesar di Inggris – Liverpool FC dan Manchester United – terjerat utang yang besar dan membahayakan.

Afrika Selatan telah menyerahkan sebagian sistem hukumnya kepada FIFA – badan pengurus sepakbola sedunia – selama berlangsungnya Piala Dunia. “Pengadilan Piala Dunia” secara khusus ditugaskan untuk memburu pemalsu barang dagangan dan penjahat kecil-kecilan di acara tersebut.
Namun hanya sedikit tuntutan hukum yang dilancarkan dan banyak yang dipertanyakan keabsahannya. Di antara yang tertuduh adalah dua perempuan Belanda yang ditahan karena mengenakan pakaian yang dirancang oleh sebuah perusahaan yang bukan sponsor resmi Piala Dunia.

Pekerja di Afrika Selatan juga mencoba menggunakan Piala Dunia untuk mengangkat persoalan mereka. Setelah pertandingan antara Jerman dan Australia, staff lapngann menggelar aksi protes menuntut bayaran dan hal-hal lain yang dijanjikan. Aksi mereka diserang oleh polisi kerusuhan dengan kekerasan, gas air mata, dan pentungan.

Menjelang Piala Dunia, pemerintah Afrika Selatan membersihkan jalanan dan pemukiman kumuh untuk “membersihkan” citra negeri tersebut bagi media dan wisatawan. Puluhan ribu kaum miskin Afrika Selatan dipaksa bertempat tinggal di penampungan sementara.

Dalam berbagai hal, sepakbola juga meneruskan hubungn kolonial lama. Di penjuru Afrika, ratusan ribu pemuda bermimpi keluar dari kemiskinan dengan cara dipilih untuk bergabung dengan suatu kelab kaya dari Eropa. Segelintir saja berhasil, tapi ribuan keluarga telah tertipu karena memberikan simpanannya kepada para penipu yang menjanjikan dunia tersebut.

Roti dan sirkus?

Di hadapan ini semua, adalah mudah untuk menulis bahwa sepakbola tak lain dari “roti dan sirkus” jaman modern yang mengalihkan rakyat dari perjuangan untuk masyarakat yang lebih baik.
Pandangan ini mengabaikan kenyataan bahwa rakyat selalu mencari hiburan melalui berbagai macam bentuk budaya. Hak atas inilah yang terancam oleh sisi buruk sepakbola, bukan permainan itu sendiri yang perlu dikecam.

Mengecam permainan itu berarti mengabikan sisi lainnya yang progresif dan kurang diketahui orang. Tim-tim seperti kelab Jerman FC St Pauli dan kelab Inggris Aston Villa, contohnya, memiliki kelompok penggemar anti-fasis dan anti-rasis yang terorganisir baik dan menggelar protes secara reguler untuk melawan rasisme dan kelompok-kelompok kanan-jauh.

Kelab Spanyol FC Barcelona dijalankan sebagai koperasi publik, dan secara reguler memberikan uang kepada UNICEF untuk membeli ijin penggunaan logo lembaga tersebut di kostumnya – bertolak belakang dengan sebagian besar kesepakatan sponsor yang ada. Aston Villa melakukan hal yang sama dengan rumah sakit anak Acorns.

Ribuan pendukung Liverpool FC yang marah atas ketidakbecusan pengelolaan kelab mereka, telah mendirikan “serikat pendukung” yang terdaftar dan bertujuan menempatkan kelab tersebut di bawah kepemilikan penggemarnya. Serikat tersebut – bernama Spirit of Shankly (Semangat Shankly) – memiliki website yang memuat kutipan pelatih legendaris Liverpool, Bill Shankly: “Sosialisme yang kuyakini adalah semua orang bekerja untuk sesamanya, semua orang mendapatkan bagian dari hasil. Itulah pandanganku tentang sepakbola, pandanganku tentang dunia.”

Pengaruh sayap-kiri

Pengaruh sayap kiri di sepakbola bukan hal baru. Pada tahun 1930an, kelab Jerman Unterhaching - yang berbasiskan kelas pekerja bordir di Munchen – dibubarkan oleh Nazi karena “secara politik tak dapat diandalkan”.
Sepakbola juga memainkan peran penting dalam perjuangan pembebasan nasional dan anti-rasis, terutama di Afrika.

Dalam perang anti-kolonial melawan Perancis, Front Pembebasan Nasional Aljazair (FLN) membentuk tim nasional bawah tanah dari beberapa pemain Aljazair terbaik di liga Perancis. FIFA menolak untuk mengakuinya, tapi tim tersebut merupakan kemenangan propaganda besar-besaran bagi perjuangan pembebasan ALjazair. Tim itu memenangkan 65 dari 91 pertandingn melawan tim dari Afrika, Asia dan blok Soviet antara 1958 dan 1962, ketika Aljazair memenangkan kemerdekaannya.

Dalam Piala Dunia 2010, tim Aljazair mempersiapkan diri untuk pertandingan melawan Inggris dengan menyaksikan film klasik tentang perjuangan anti-kolonial, The Battle of Algiers (Pertempuran Aljazair). Sebagaimana diketahui kemudian, ini tidak menghasilkan kemenangan.
Sepakbola juga memainkan peran vital dalam perjuangan melawan apartheid di Afrika Selatan. Aktivis anti-apartheid yang dipenjara di Pulau Robben yang tersohor menggunakan permainan ini sebagai cara mempertahankan organisasi politik dan mengatasi perpecahan internal.

Pada 2005, kelab Italia Inter Milan – yang pernah diasosiasikan dengan politik sayap kanan – menerima tantangan untuk memainkan pertandingan solidaritas dengan pemberontak sayap-kiri Zapatista dari Meksiko. Kelab ini juga memberikan dana untuk proyek olahraga, penyediaan air dan kesehatan di wilayah Chiapas di Meksiko, yang dikuasai oleh Zapaistas.

Menjelang Piala Dunia, tim sepakbola Argentina difoto dengan memegang spanduk yang menyerukan agar Ibu Plaza de Mayo – para ibu dari 30.000 pemuda dan pemudi yang “dihilangkan” di bawah kediktatoran Argentina antara 1976-1983 – dianugerahkan Penghargaan Nobel Perdamaian. Pelatih Diego Maradona merupakan pendukung vokal pemerintah revolusioner Kuba dan Venezuela.

Seperti halnya kelab, tim nasional tidak lagi homogen seperti dulu karena dampak imigrasi. Tim-tim nasional Inggris, Belanda, Swiss semuanya menyertakan pemain dari beragam latar belakang. Dalam tim Jerman, seorang pemain dilahirkan di Brasil, dua penyerang kunci dari Polandia dan seorang lainnya keturunan Turki. Kakak-beradik Boateng, Gerome dan Kevin-Prince, memegang kewarganegaraan ganda Jerman-Ghana, tapi dalam Piala Dunia ini mereka bermain dalam dua tim berbeda – satu untuk Jerman, sisanya untuk Ghana.
Sepakbola – dan semua olahraga lainnya – merupakan medan pertempuran untuk keadilan sosial seperti ajang lainnya.

Ketika menonton Piala Dunia, ingatlah warga miskin kulit hitam di kota-kota Afrika Selatan, staf lapangan yang memungkinkan berjalannya pertandingan, dan buruh murah yang memproduksi bola yang bodoh itu. Dan ingatlah, sepakbola lebih dari sekedar bendera, lagu dan piala.
 

Inilah Potret keserakahan.. Para Pengusaha lokal berjiwa imperialis..

Kapitalisme Bangsa Sendiri?

Oleh : Ir. Soekarno

 

Dalam suatu rapat umum saya pernah berkata, bahwa kita bukan saja harus menentang kapitalisme asing, tetapi harus juga menentang kapitalisme bangsa sendiri. Hal ini telah mendapat pembicaraan di dalam pers, dan saya pun mendapat beberapa surat yang minta hal ini diterangkan sekali lagi dengan singkat.
Dengan segala senang hati saya memenuhi permintaan-permintaan itu. Sebab soal ini adalah soal yang mengenai beginsel. Beginsel, yang harus dan musti kita perhatikan, jikalau kita mengabdi kepada rakyat dengan sebenar-benarnya, dan ingin membawa rakyat ke arah keselamatannya.
Supaya buat pembaca soal ini menjadi terang, dan supaya pembicaraan kita bisa tajam garis-garisnya, maka perlulah lebih dulu kita menjawab pertanyaan

Apakah kapitalisme itu?

Kapitalisme adalah stelsel pergaulan hidup, yang timbul daripada cara produksi yang memisakan kaum buruh dari alat-alat produksi. (Soekarno)

Didalam saya punya buku pembelaan saya pernah menjawab: kapitalisme adalah stelsel pergaulan hidup, yang timbul daripada cara produksi yang memisakan kaum buruh dari alat-alat produksi. Kapitalisme adalah timbul dari ini cara produksi, yang oleh karenanya, menjadi sebabnya meerwaarde tidak jatuh di dalam tangannya kaum buruh melainkan jatuh di dalam tangannya kaum majikan. Kapitalisme, oleh karenanya pula, adalah menyebabkan kapitaalaccumulatie, kapitaal-concentratie, kapitaalcentralisatie, dan industrieel reserve armee. Kapitalisme mempunyai arah kepada verelendung, yakni menyebarkan kesengsaraan.
Itulah kapitalisme!—yang prakteknya bisa kita lihat di seluruh dunia. Itulah kapitalisme, yang ternyata menyebarkan kesengsaraan, kepapaan, pengangguran, balapan-tariff, peperangan, dan kematian,–pendek kata menyebabkan rusaknya susunan-dunia yang sekarang ini. Itulah kapitalisme yang melahirkan modern-imperialisme, yang membikin kita dan hampir seluruh bangasa berwarna menjadi rakyat celaka!

Siapa di dalam beginsel tidak anti kepada stelsel yang demikian itu, adalah menutup mata buat kejahatan-kejahatan kapitalisme yang sudah senyata-nyatanya itu. Tiap-tiap orang, yang mempunyai beginsel yang logis, haruslah anti kepada stelsel itu. Sebab, –sekali lagi saya katakan–, stelsel itu ternyata dan terbukti stelsel yang mencelakakan dunia.
“Ya,” orang menyahut. “tetapi kapitalisme bangsa sendiri?” kapitalisme bangsa sendiri yang bisa kita pakai untuk memerangi imperialisme? Apakah kita harus juga anti kapitalisme bangsa sendiri itu, dan menjalankan perjuangan kelas alias klassentrijd?”
Dengan tertentu disini saya menjawab: ya, kita juga harus anti kepada kapitalisme bangsa sendiri itu! Kita juga harus anti isme yang ikut menyengsarakan marhaen itu. Siapa mengetahui keadaan kaum buruh di industri batik, rokok-kretet, dan lain-lain dari bangsa sendiri, dimana saya sering melihat upah-buruh yang kadang-kadang hanya 10 a’ 12 sen sehari,–siapa mengetahui keadaan perburuhan yang sangat buruk di industri-industri bangsa sendiri itu—-, ia mustilah menggoyangkan kepala dan rasa-kesedihan melihat buahnya cara produksi yang tak adil itu. Pergilah ke Mataram, pergilah ke Lawean Solo, pergilah ke Kudus, pergilah ke Tulung Agung, pergilah ke Blitar,–dan orang akan menyaksikan sendiri “rahmat-rahmatnya” cara produksi itu.

Seorang nasionalis, justru karena ia seorang nasionalis, harulah berani membukakan mata di muka keadaan-keadaan yang nyata itu. Ia harus mengabdi kepada kemanusiaan. Ia harus memperhatikan perkataan-perkataan Gandhi yang saya sajikan tempo hari: nasionalismeku adalah kemanusiaan. Ia harus sosio-nasionalis,–yakni seorang nasionalis yang mau memperbaiki masyarakat dan yang dus anti segala stelsel yang mendatangkan kesengsaraan ke dalam masyarakat itu. Ia harus seorang Jawaharlal Nehru yang berkata:
“Saya seorang nasionalis. Tapi saya juga seorang sosialis dan republiken. Saya tidak percaya kepada raja-raja dan ratu-ratu, tidak pula kepada susunan masyarakat yang melahirkan raja-raja industri yang pada hakekatnya berkuasa lebih besar lagi daripada raja-raja di jaman sediakala. Saya niscaya mengerti, bahwa congress belum bisa mengadakan program sosialistis yang selengkap-lengkapnya.  Tetapi filsafat sosialisme sudahlah dengan perlahan-lahan menyerapi segenap susunan masyarakat di seluruh dunia. India niscaya akan menjalankan cara-cara sendiri, dan mencocokkan cita-cita sosialisme itu kepada keadaan penduduk India seumumnya.”

Tetapi, apakah ini berarti, bahwa kita harus memusuhi tiap-tiap orang Indonesia yang mampu? Sama sekali tidak. Sebab pertama-tama: kita tidak memerangi “orang”,–kita memerangi stelsel. Dan tidak tiap-tiap orang yang mampu adalah menjalankan stelsel kapitalisme. Tidak tiap-tiap orang yang mampu adalah mampu karena mengeksploitasi orang lain. Tidak tiap-tiap orang mampu adalah menjalankan cara produksi sebagai yang saya terangkan dengan singkat (dengan mencitat dari pembelaan) di atas tadi. Dan tidak tiap-tiap orang mampu adalah ikut atau hidup di dalam ideologi kapitalisme, yakni di dalam akal, fikiran, budi-pekerti kapitalisme. Pendek kata, tidak tiap-tiap orang mampu adalah jenderal atau sersan atau serdadu kapitalisme!
Dan apakah prinsip kita itu berarti, bahwa kita ini harus mementingkan perjuangan kelas? Juga sama sekali tidak. Kita nasionalis, mementingkan perjuangan nasional, perjuangan kebangsaan.
Hal ini saya terangkan dalam karangan saya yang akan datang.

Di dalam karangan saya yang lampau saya katakan, bahwa kita harus anti segala kapitalisme, walaupun kapitalisme bangsa sendiri. Tetapi di situ saya janjikan pula untuk menerangkan, bahwa kita dalam perjuangan kita mengejar Indonesia-merdeka itu tidak pertama-tama mengutamakan perjuangan kelas, tetapi harus mengutamakan perjuangan nasional. Memang kita, –begitulah saya tuliskan–, adalah kaum nasionalis, kaum kebangsaan, dan bukan kaum apa-apa yang lain.
Apa sebabnya kita harus mengutamakan perjuangan nasional di dalam usaha kita mengejar Indonesia merdeka? Kita mengutamakan perjuangan nasional, oleh karena keinsyafan dan perasaan nasional, adalah keinsyafan dan perasaan yang terkemuka di dalam suatu masyarakat kolonial.
Didalam sesuatu masyarakat selamanya adalah antithese, yakni perlawanan. inilah menurut dialektiknya semua keadaan. Tetapi di Eropa, di Amerika, antithese ini sifatnya adalah berlainan dengan antithese yang ada disesuatu negeri kolonial.

Pada hakekatnya, antithese dimana-mana adalah sama: perlawanan antara yang “diatas” dan yang “dibawah”, antara yang “menang” dan yang “kalah”, antara yang menindas dan yang tertindas. Tetapi di Eropa, di Amerika, dan di negeri-negeri lain yang merdeka, dua golongan yang ber-antithese itu adalah dari satu bangsa, satu kulit, satu ras. Kaum modal Amerika dengan kaum buruh Amerika, kaum modal Eropa dengan kaum buruh Eropa, kaum modal negeri merdeka dengan kaum buruh negeri merdeka, umumnya adalah dari satu darah, satu natie. Karena itulah maka disesuatu negeri yang merdeka antithese tadi tidak mengandung rasa atau keinsyafan kebangsaan, tidak mengandung rasa atau keinsyafan nasional, tetapi adalah bersifat zuivere klassenstrijd, –perjuangan klas yang melulu perjuangan klas.

Tetapi didalam negeri jajahan, didalam negeri yang dibawah imperialisme bangsa asing, maka yang “menang” dan yang “kalah”, yang “diatas” dan yang “dibawah”, yang menjalankan kapitalisme dan yang dijalani kapitalisme, adalah berlainan darah, berlainan kulit, berlainan natie , berlainan kebangsaan. Antithese didalam negeri jajahan adalah “berbarengan” dengan antithese bangsa, –samenvallen atau coїnsederen dengan antithese bangsa. Antithese didalam negeri jajahan adalah, oleh karenanya, terutama sekali bersifat antithese nasional.
Itulah sebabnya, maka perjuangan kita untuk mengejar Indonesia Merdeka, –jikalau kita ingin lekas mendapat hasil–, haruslah pertama-tama mengutamakan perjuangan nasional, yakni pertama-tama mengutamakan perjuangan nasional, kita anti segala kapitalisme, kita anti kapitalisme bangsa sendiri, –tetapi kita untuk mencapai Indonesia Merdeka, yakni untuk mengalahkan imperialisme bangsa asing, harus mengutamakan perjuangan kebangsaan.

Mengutamakan perjuangan kebangsaan, itu TIDAK berarti bahwa kita tidak harus melawan ketamakan atau kapitalisme bangsa sendiri. Sebaliknya! Kita harus mendidik Rakyat juga benci kepada kapitalisme bangsa sendiri, dan dimana ada kapitalisme bangsa sendiri, kita harus melawan kapitalisme bangsa sendiri itu juga! Tetapi MENGUTAMAKAN perjuangan nasional, –itu adalah berarti, bahwa pusarnya, titik beratnya, aksennya kita punya perjuangan haruslah terletak didalam perjuangan nasional. Pusarnya kita punya perjuangan sekarang haruslah didalam memerangi imperialisme asing itu dengan segala tenaga kita nasional, dengan segala tenaga-kebangsaan, yang hidup didalam sesuatu bangsa yang tak merdeka dan yang ingin merdeka! Pusarnya kita punya perjuangan sekarang haruslah didalam dynamisering, –yakni membangkitkan menjadi aksi dan perbuatan–, daripada rasa kebangsaan alias nationaal bewustzijn (kesadaran kebangsaan, ed.) kita, — nationaal bewustzijn yang hidup didalam hati sanubari tiap-tiap Rakyat sadar yang tak merdeka.
Jadi, siapa yang mengira, bahwa kita punya nasionalisme adalah nasionalisme yang suka “main mata” dengan borjuisme, ia adalah salah sama sekali. Kita hanyalah menjatuhkan pusar, titik berat, aksennya kita punya perjuangan didalam perjuangan nasional. Borjuisme harus kita tolak, kapitalisme harus kita lawan, –oleh karena itulah maka kita punya nasionalisme Marhaenistis. Sebab, hanya kaum Marhaen sendirilah yang menurut dialektik satu-satunya golongan yang sungguh-sungguh berantithese dengan borjuisme dan kapitalisme itu, dan yang dus bisa sungguh-sungguh menentang dan mengalahkan borjuisme dan kapitalisme itu. Hanya kaum Marhaen sendirilah yang menurut riwayat bisa menjalankan “pekerjaan-riwayat” alias “historische taak”, menghilangkan segala borjuisme dan kapitalisme di negeri kita adanya!

Memang! Marhaenistis nasionalismelah pula yang cocok dengan keadaan nyata yang didatangkan oleh imperialisme di Indonesia sini. Imperialisme Belanda, sedikit berlainan dengan imperialisme Inggris atau imperialisme Amerika, adalah lebih “memarhaenkan” masyarakat Bumiputera daripada imperialisme-imeprialisme yang lain. Imperialisme Belanda itu sejak mulanya datang di Indonesia sini, adalah berasas dan bersifat monopolistis, –merebut tiap-tiap akar perusahaan, pertukangan atau perdagangan atau pelajaran yang ada di Indoensia sini. Imperialisme Belanda itu adalah imperialisme yang lebih “kolot” daripada imperialisme-imperialisme yang lain. Tidak ada sedikitpun warna modern-liberalisme padanya, sebagaimana yang tampak pada imperialisme-imperialisme yang lain. Politiknya adalah politik menggagahi semua lat perekonomiaan di Indonesia sini, menggagahi segala “economisch leven” (kehiduoan ekonomi) di Indonesia sini.

Kini masyarakat Indonesia adalah “masyarakat kecil”, masyarakat yang hampir segala-galanya kecil. Kini masyarakat Indonesia buat sebagian yang besar sekali hanyalah mengenal pertanian kecil, pelajaran kecil, perdagangan kecil, perusahaan kecil. Kini masyarakat Indoensia adalah 90% masyarakat kekecilan itu, –masyarakat Marhaen yang hampir tiada kehidupan ekonominya sama sekali. Oleh karena itulah, maka Marhaenistis nasionalisme adalah satu-satunya nasionalisme yang cocok dengan sifatnya masyarakat Indonesia itu, cocok dengan keadaan nyata, cocok dengan realiteit di Indoensia itu. Dan oleh karena itulah pula, maka juga hanya Marhaenistis nasionalisme sajalah yang bisa menjalankan historische taak mendatangkan Indonesia-Merdeka dengan secepat-cepatnya, – historische taak yang sesuai juga dengan historische taak-nya menghilangkan segala borjuisme dan kapitalisme adanya!

Jawaharlal Nehru, didalam pidatonya dimuka National Congress yang ke 44, sebagai yang telaah kita kutip tempo hari, mengakui dengan terus terang seorang Sosialis, yang anti segala kapitalisme. Tetapi Jawaharlal Nehru itu pula adalah seorang Nasionalis, –the second uncrowned king of India, raja kedua dari India yang tak bermahkota–, yang membangkitkan segala tenaga Rakyat India yang tak bermahkota–, yang membangkitkan segala tenaga Rakyat India kedalam suatu perjuangan nasional yang mati-matian. Nasionalisme Jawaharlal Nehru adalah nasionalisme India yang Marhaenistis, suatu Sosio-Nasionalisme yang ingin menghilangkan semua kapitalisme, menyelamatkan seluruh masyarakat India.
Nasionalisme yang demikian itulah nasionalisme kita pula.
Fikiran Ra’jat, 1932.